Segala puji bagi Allah yang menjanjikan bagi orang yang mengintrospeksi
dan mengekang dirinya dengan rasa aman di hari yang dijanjikan. Aku
memuji-Nya, (Dia) Yang Maha Suci, Yang memuliakan wali-wali-Nya, dan
menganugrahkan tambahan pada mereka di hari (itu). Aku bersaksi bahwa
tiada sesembahan yang haq kecuali Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha
Terpuji. Dan Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya,
beliau adalah sebaik-baik penyeru ke jalan dan petunjuk yang lurus,
Semoga shalawat, keberkahan dan salam tetap terlimpah pada beliau,
keluarga serta para shahabat yang mereka adalah suri tauladan bagi
manusia dalam muhasabah. Dengan memperingatkan dari hari yang amat hebat
kegocangannnya. Begitupula para tabi'in yang mengikuti mereka dengan
kebaikan hingga hari yang tidak mungkin menghindar darinya.
Wahai
hamba-hamba Allah, aku mewasiatkan diriku dan anda untuk bertakwa pada
Allah dan introspeksi diri. Karena dengan muhasabah, maka jiwa akan
menjadi istiqamah, sempurna dan bahagia. Allah Ta'ala berfirman:
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا
قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada
Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertakwalah kepada Allah,
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan"
Ibnu
Katsir rahimahullah berkata dalam tafsirnya: "Firman Allah وَلْتَنظُرْ
نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ , maksudnya introspeksilah diri kalian
sebelum kalian dihisab, dan perhatikan amalan sholeh yang telah kalian
persiapkan untuk hari kemudian dan pertanggung jawaban di hadapan Allah.
Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا . فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا . قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا . وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
"Dan
jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan
kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah
orang yang mengotorinya" (Q.S Asy-Syams 7-10)
Imam
Al-Badawy rahimahullah berkata dalam tafsirnya: "Al-Hasan berkata:
Maknanya sungguh beruntunglah orang yang mensucikan, memperbaiki dan
mengarahkan dirinya untuk taat pada Allah 'Azza Wa Jalla:
قَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا , maksudnya, membinasakannya, menyesatkannya dan mengarahkannya pada perbuatan maksiat.
Dalam
sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah ^ bersabda: "Orang
yang pandai adalah orang yang mengintrospeksi dirinya dan beramal untuk
setelah kematian, sedang orang yang lemah adalah orang yang jiwanya
selalu tunduk pada nafsunya dan mengharap pada Allah dengan berbagai
angan-angan" (H.R Ahmad dan Tirmidzi)
Imam Ahmad meriwayatkan
dalam Kitab Az-Zuhd dari Umar bin Khattab bahwa beliau berkata:
"Perhitungkanlah diri kalian sebelum kalian diperhitungkan, timbanglah
diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena itu lebih memudahkan
penghisaban bagi kalian kelak, Berhiaslah untuk menghadapi hari
perhitungan
يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَى مِنكُمْ خَافِيَةٌ :
"Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari
keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah)" (Q.S Al-Haaqqah: 18)
Ibnul
Qayyim rahimahullah meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa beliau berkata:
"Seorang mukmin itu pandai mengendalikan dirinya, selalu menghisab
dirinya di hadapan Allah. Penghisaban di Hari Kiamat itu akan menjadi
ringan bagi mereka yang selalu memperhitungkan selama di dunia.
Sebaliknya, akan terasa berat bagi orang yang tidak pernah
memperhitungkan dirinya".
Berkata Wahab sebagaimana diriwayatkan
oleh Imam Ahmad rahimahullah: "Dalam hikmah keluarga Daud tertulis:
"Sudah selayaknya bagi orang yang berakal agar tidak lalai dari empat
waktu:
- - Saat bermunajat pada Tuhannya
- - Waktu mengintrospeksi diri
- - Saat berkumpul bersama saudara (dan teman) yang memberitahukan
tentang kekurangan dan keadaan dirinya - dan waktu refreshing/santai
dengan melakukan sesuatu yang halal lagi menyenangkan, karena pada saat
tersebut akan mempermudah baginya melakukan waktu-waktu di atas dan
sekaligus menjadi penghibur hati.
Berkata Maimun bin Mahran: "Seorang
hamba tidak akan meraih derajat takwa sampai ia menghisab dirinya
melebihi seseorang pada patnernya. Karena itu dikatakan: "Jiwa itu
ibarat shahabat yang suka berkhianat, jika engkau tidak mengawasinya,
maka ia akan membawa lari hartanya".
Umar bin Khattab y menulis
(surat) pada beberapa pejabatnya: "Perhitungkanlah dirimu di waktu
senang sebelum datang perhitungan yang berat. Barangsiapa yang menghisab
dirinya di waktu senang sebelum perhitungan yang berat, maka ia akan
ridha dan mendapat keberuntungan. Sebaliknya, siapa yang kehidupannya
melalaikannya dan nafsunya menyibukkannya, maka ia akan menyesal dan
mendapat kerugian" (H.R Baihaqi dalam Al- Wahd dan Ibnu 'Asakir)
Ibnul
Jauzi meriwayatkan dalam (Kitab) Dzammul Hawa dari As-Sulamy berkata:
Aku mendengar Abul Husain Al-Farisy berkata: Aku mendengar Abu Muhammad
Al-Hariri berkata: "Barangsiapa yang dikuasai oleh jiwanya, maka ia akan
berada dalam tawanan syahwat dan terkurung dalam penjara hawa nafsu.
Allah
mengharamkan bagi hatinya untuk mendapat kemanfaatan, sehingga ia tidak
dapat merasakan keindahan firman-Nya meski ia banyak membacanya.
Berkata Syaikh Abdul Aziz As-Salman rahimahullah dalam kitabnya: Mawarid
adz-Dzam-aan : "Jika ia sadar bahwa ia akan di tanya dalam perhitungan
nanti tentang perkara sekecil biji sawi, di hari yang kadarnya adalah
lima puluh ribu tahun, dimana di saat itu amat dibutuhkan berbagai
kebaikan, dan ampunan dosa-dosa, maka nyatalah bahwa tidak akan selamat
dari berbagai kesulitan kelak, melainkan dengan bergantung pada Allah,
dan pertolongan-Nya untuk introspeksi diri, muraqabah, dan mengawasi
jiwa dalam setiap gerak geriknya. Maka barangsiapa yang menghisab
dirinya sebelum di hisab, akan menjadi ringan perhitungan dirinya di
Hari Kiamat, akan ada jawaban di saat ia mengahadapi pertanyaan, dan
akhir kesudahannya adalah kebaikan.
- Wahai jiwa, bersiaplah dengan perbekalan yang engkau mampu
- Wahai jiwa, sebelum (datangnya) kematian, engkau tidak diciptakan dengan sia-sia
- Waspadalah dari terjatuh pada kehinaan dan merendah dirilah
- Pintu Allah, berapa banyak Dia Memberi petunjuk dan memaafkan
- Takutlah dengan berbagai gejolak kehidupan
- Sadarlah, jangan menjadi seperti orang yang terjatuh
- Dalam jurang kehinaan …
Berkata Ibnu Qudamah dalam Minhaj
Al-Qashidin: "Ketauhilah bahwa musuhmu yang paling berbahaya adalah jiwa
yang berada dalam dirimu, ia memiliki nafsu ammarah bissuu', condong
pada kejahatan. Engkau diperintahkan untuk meluruskan, membersihkan, dan
memutusnya dari berbagai pengaruh negatif serta mengarahkannya dengan
rantai kekuatan untuk beribadah pada Tuhannya. Jika engkau
menyepelekannya, maka ia akan terlepas tanpa kendali dan engkau tidak
mendapat keberuntungan setelah itu. Kalau engkau senantiasa
mengingatkannya maka kami mengharapkan jiwa tersebut akan menjadi
tenang. Karena itu jangan engkau lalai untuk mengingatkannya".
Ketauhilah wahai hamba-hamba Allah, bahwa muhasabah itu ada beberapa macam:
Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah: Muhasabah ada dua macam, sebelum beramal dan sesudahnya.
*
Jenis yang pertama: Sebelum beramal, yaitu dengan berfikir sejenak
ketika hendak berbuat sesuatu, dan jangan langsung mengerjakan sampai
nyata baginya kemaslahatan untuk melakukan atau tidaknya. Al-Hasan
berkata: "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berdiam sejenak
ketika terdetik dalam fikirannya suatu hal, jika itu adalah amalan
ketaatan pada Allah, maka ia melakukannya, sebaliknya jika bukan, maka
ia tinggalkan".
* Jenis yang kedua: Introspeksi diri setelah melakukan perbuatan. Ini ada tiga jenis:
1.
Mengintrospeksi ketaatan berkaitan dengan hak Allah yang belum
sepenuhnya ia lakukan, lalu ia juga muhasabah, apakah ia sudah melakukan
ketaatan pada Allah sebagaimana yang dikehendaki-Nya atau belum ?
2. Introspeksi diri terhadap setiap perbuatan yang mana meninggalkannya adalah lebih baik dari melakukannya.
3.
Introspeksi diri tentang perkara yang mubah atau sudah menjadi
kebiasaan, mengapa mesti ia lakukan? Apakah ia mengharapkan Wajah Allah
dan negeri akherat? Sehingga (dengan demikian) ia akan beruntung, atau
ia ingin dunia yang fana? Sehingga iapun merugi dan tidak mendapat
keberuntungan.
Muhasabah memiliki dampak positif dan manfaat yang luar biasa, antara lain:
1. Mengetahui aib sendiri. Barangsiapa yang tidak memeriksa aib dirinya, maka ia tidak akan mungkin menghilangkannya.
2.
Dengan bermuhasabah, seseorang akan kritis pada dirinya dalam
menunaikan hak Allah. Demikianlah keadaan kaum salaf, mereka mencela
diri mereka dalam menunaikan hak Allah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu
Darda y bahwa beliau berkata: "Seseorang itu tidak dikatakan faqih
dengan sebenar-benarnya sampai ia menegur manusia dalam hal hak Allah,
lalu ia gigih mengoreksi dirinya.
Berkata Muhammad bin Wasi'
rahimahullah dengan nada merendah diri, padahal beliau adalah seorang
ahli ibadah: "Seandainya dosa berbau, tentu tidak ada yang betah duduk
bersamaku"
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: "Mencela diri dalam
Dzat Allah adalah termasuk sifat shiddiqin (orang-orang yang benar),
seorang hamba akan dekat dengan Allah Ta'ala dalam sekejap,
berlipat-lipat melebihi dekatnya melalui amalnya".
Berkata
Abu Bakar As-Shiddiq y: "Barangsiapa yang mencela dirinya berkaitan
dengan hak Allah (terhadap dirinya), maka Allah akan memberinya keamanan
dari murka-Nya"
3. Diantara buah dari muhasabah adalah
membantu jiwa untuk muraqabah. Kalau ia bersungguh-sungguh melakukannya
di masa hidupnya, maka ia akan beristirahat di masa kematiannya. Apabila
ia mengekang dirinya dan menghisabnya sekarang, maka ia akan istirahat
kelak di saat kedahsyatan hari penghisaban.
4. Diantara buahnya adalah akan terbuka bagi seseorang pintu kehinaan dan ketundukan di hadapan Allah.
5.
Manfaat paling besar yang akan diperoleh adalah keberuntungan masuk dan
menempati Surga Firdaus serta memandang Wajah Rabb Yang Mulia lagi Maha
Suci. Sebaliknya jika ia menyia-nyiakannya maka ia akan merugi dan
masuk ke neraka, serta terhalang dari (melihat) Allah dan terbakar dalam
adzab yang pedih.
Tidak mengintrospeksi diri dan
menyia-nyiakannya akan membawa kerugian yang besar. Berkata Ibnul Qayyim
rahimahullah: "Yang paling berbahaya adalah sikap tidak mengindahkan,
tidak mau muhasabah, dan menggampangkan urusan, karena ini akan
menyampaikan pada kebinasaan. Demikianlah keadaan orang-orang yang
tertipu, ia menutup matanya dari akibat (perbuatan) dan hanya
mengandalkan ampunan, sehingga ia tidak mengintrospeksi dirinya dan
memikirkan kesudahannya. Jika ia melakukan hal ini, akan mudah baginya
untuk terjerumus dalam dosa dan ia akan senang melakukannya, serta berat
untuk meninggalkannya. Seandainya ia berakal, tentulah ia sadar bahwa
mencegah itu lebih mudah ketimbang berhenti dan meninggalkan kebiasaan.
- Jika engkau selalu menuruti nafsu dalam setiap kelezatan
- Engkau akan lupa ….
- Jika engkau senantiasa memenuhi seruan hawa nafsu
- Ia akan menyeretmu pada perbuatan buruk dan haram
Maka bertakwalah pada Allah wahai
hamba Allah, introspeksilah dirimu, karena baik dan selamatnya hati
adalah dengan muhasabah, sebaliknya rusaknya adalah dengan sebab tidak
mengindahkan dan bergelimang dalam kelezatan nafsu serta syahwat serta
mengenyampingkan perkara yang bisa menyempurnakannya. Maka
berhati-hatilah dari hal itu, niscaya diri kalian akan mulia dan
berbahagia di saat berjumpa dengan Tuhan kalian (Allah). Semoga shalawat
dan salam tetap tercurah pada nabi kita Muhammad, keluarga dan para
shahabatnya.