Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label B. Indonesia. Tampilkan semua postingan
0

Bahasa Yang Paling Sering di pakai di Dunia

Tahukah kamu ada sekitar 6.900 bahasa di bumi ini menurut SIL International's Ethnologue? Dari sekian banyak bahasa, hanya beberapa yang masuk daftar paling banyak dipakai.

Namun, kita harus membedakan antara daftar "bahasa yang banyak dipakai secara keseluruhan" dan daftar "bahasa yang dipakai oleh penutur asli". Maka untuk kategori penutur asli, jangan kaget bila bahasa Jawa lebih banyak daripada Bahasa Indonesia sendiri.

 






Berikut daftarnya menurut Nationalencyklopedin:

1. Mandarin dipakai oleh 955 juta orang, sekitar 14,1 % populasi dunia
2. Spanish dipakai oleh 407 juta orang, sekitar 5,85 % populasi dunia
3. English dipakai oleh 359 juta orang, sekitar 5,52 % populasi dunia
4. Hindi dipakai oleh sekitar 4,46 % populasi dunia
5. Arabic dipakai oleh sekitar 4,23 % populasi dunia
6. Portuguese dipakai oleh sekitar 3,08 % populasi dunia
7. Bengali dipakai oleh sekitar 3,05 % populasi dunia
8. Russian dipakai oleh sekitar 2,42 % populasi dunia
9. Japanese dipakai oleh sekitar 1,92 % populasi dunia
10. Punjabi dipakai oleh sekitar 1,44 % populasi dunia
11.. German dipakai oleh sekitar 1,39 % populasi dunia
12. JAVANESE dipakai oleh sekitar 1,25 % populasi dunia
13.
 Wu dipakai oleh sekitar 1,20 % populasi dunia. Bahasa Wu digunakan di Shanghai, China.
14. MALAY/BAHASA INDONESIA dipakai oleh sekitar 1,16 % populasi dunia.

Sementara pada kategori "Dipakai secara total jumlah" berikut daftarnya:

1. Standar Chinese dipakai oleh 1,151 milyar orang
2. English dipakai oleh 1 milyar orang
3. Spanish dipakai oleh 500 juta orang
4. Hindi dipakai oleh 490 juta orang
5. Russian dipakai oleh 277 juta orang
6. Arabic dipakai oleh 255 juta orang
7. Portuguese dipakai oleh 240 juta orang
8. Bengali dipakai oleh 215 juta orang
9 French dipakai oleh 200 juta orang
10. Malay/Bahasa Indonesia dipakai oleh 175 juta orang

Mengapa Malay/Bahasa Indonesia tidak sama dengan jumlah penduduk 250 juta, belum lagi ditambah cakupan bahasa melayu di negeri-negeri tetangga (Malaysia, Singapura, Brunei)? Hipotesanya: masyarakat di daerah pedalaman belum semua menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari.

Dari daftar di atas, kita bisa lihat betapa besar peran bahasa Mandarin dibanding bahasa Inggris / English. Akhirnya semakin banyak pula orang yang mempelajari bahasa ini. Di beberapa negara Afrika yang dulu masuk wilayah jajahan Prancis, kini semakin banyak yang memilih belajar bahasa Mandarin, bukan bahasa Prancis itu sendiri.
0

Ketika Kebakaran Jadi Tanda Keselamatan

Alkisah, seseorang terdampar di pulau terpencil. Kapal yang ditumpanginya karam, dan hanya dia yang berhasil hidup setelah terapung-apung di atas pecahan kayu selama lima hari.

Selama di pulau tersebut, tak henti-hentinya ia berdoa pada Tuhan meminta pertolongan. Pagi, siang, sore, hingga tengah malam terus memohon tanpa henti. Sesekali hanya berhenti untuk mencari makan, lalu berdiri di bibir pantai memandang cakrawala. Dia berharap Tuhan mengabulkan dan akan mengirim kapal penyelamat.

Setelah satu minggu tak ada tanda-tanda positif, akhirnya orang ini memutuskan membuat gubuk. Dalam pikirannya, kalau memang sudah takdir harus jadi penghuni di pulau terpencil ini, apa boleh buat? Dikumpulkannya rumbai kelapa untuk atap, serta batang-batang pohon untuk dinding rumah impiannya. Dia bekerja siang-malam sampai rumah itu selesai.

Suatu hari, sepulang dari berburu betapa terkejutnya dia melihat gubuk yang sudah dibangunnya susah payah terbakar habis. Penuh kemarahan, dia berdiri menantang langit.

"Wahai Tuhan, mengapa Engkau tega melakukan ini padaku? Kau tidak kirimkan penolong walau aku telah berdoa tanpa putus. Dan sekarang, saat aku sudah punya rumah dari hasil jerih-payahku, itu pun Engkau hancurkan begitu saja!!!"

Dia begitu marah hingga timbul rasa kebencian pada Tuhan. Sambil menangis putus-asa, ia berjanji tak akan lagi percaya pada Sang Pencipta. "Tuhan tak pernah mendengar doaku," ratapnya.

Dalam kemarahan dan kesedihan, orang ini jatuh tertidur karena lelah seharian mengumpat Tuhan yang sempat dicintainya namun sekarang sangat dibencinya.

Keesokan pagi...

Dia merasa ada yang mengganggu tidurnya. Matanya terpicing karena tak siap menerima cahaya matahari.  Seperti ada yang menendang-nendang kakinya? Dia pun menoleh mencari tahu apa yang membuatnya terbangun.

Dilihatnya seorang berseragam kelasi berdiri di dekat kakinya. Dia pun segera bangun. Sambil dipapah, orang ini akhirnya dibawa ke kapal penyelamat. Sempat didengarnya sang kelasi memberi laporan bahwa dia berhasil diselamatkan.

Penuh rasa terima kasih, orang ini kemudian bertanya pada penyelamatnya. "Bagaimana kalian bisa tahu saya terdampar di pulau itu?"

"Kami melihat ada api besar dari kejauhan, dan ternyata datang dari pulau ini. Bukankah kamu sengaja membuat api tersebut sebagai tanda S.O.S ?" jawab sang kelasi.

Orang ini terdiam. Dalam hatinya dia memohon ampun pada Tuhan, "Maafkan aku Tuhan telah menghujat Mu. Seharusnya aku menyadari, bahwa kebakaran itu sesungguhnya merupakan cara Mu menyelamatkan hamba."

Tuhan memang tidak tidur. Terkadang, kita yang tak mengerti cara pertolongan itu bekerja. Dalam duka dan penderitaan, siapa yang tahu kalau sebenarnya itu adalah cara Tuhan menolong kita? Keep the faith :-)




Sumber:
islamicinformation
5

Sahabat Ternyata kau Telah Lebih Dulu Pergi

Sebelumnya, jangan lupa siapin tisu sebelum baca cerpen ini..


          Siang itu, angin begitu kencang menusuk kedalam tulang rusukku. hujan yang sangat deras terus membasahi seluruh tubuhku, namun aku tidak mempedulikan itu semua. Aku tidak peduli berapa lama aku akan seperti ini. Aku hanya terpaku  di depan sebuah tumpukan tanah, yang terdapat taburan bunga, serta adanya batu nisan yang bertuliskan sebuah nama. Dan ternyata itu adalah nama sahabat lama ku,yang sejak 6 tahun lalu aku tidak pernah tau kabarnya.

Dina adalah sahabat lama ku waktu kecil. Dulu kami sering bermain bersama. Orang tua dina pun bersahabat dengan orang tuaku. Aku menganggap dina sudah seperti kakakku sendiri. Saat aku sedih dia selalu bias menghiburku dan membuatku tertawa. Dan aku pun sebaliknya. Setiap aku pergi, dina selalu turut pergi bersamaku. Kami selalu menjaga satu sama lain. Dan kebetulan rumahku tidak terlalu jauh dari rumah dina. Saat masih di bangku sekolah dasar, aku selalu berangkat sekolah bersama dina. Meskipun kami tidak sekolah di sekolah yang sama.

          Saat masuk SMP, dina tidak tinggal lagi di Jakarta, karena orang tuanya di pindah tugaskan ke Bandung. Maka, dia pun harus bersekolah di bandung. Rasa sedih kurasakan saat aku harus berpisah dengan dina. Air mataku tidak bisa berhenti menetes saat aku memeluk tubuh sahabatku itu. Dina meyakinkan aku bahwa dia akan terus mengabari aku. Dan dia juga meyakinkan aku bahwa persahabatan kita tidak akan berakhir sejauh apapun kita tinggal. Aku pun merelakan dina untuk berangkat ke Bandung. Perlahan,mobil yang dinaiki dina dan keluarganya pun beranjak pergi dari halaman rumahku. Lambaian tangan dina pun semakin lama semakin jauh,jauh,jauh dan perlahan-lahan mulai menghilang.


          Tiga bulan telah berlalu semenjak dina pergi. Hari-hariku tidak seceria dulu. Aku memang mempunyai teman-teman baru di sekolah dan rumahku. Tapi, mereka semua tidak ada yang bisa seperti dina. Aku sungguh merindukan sahabat kecilku. Ingin rasanya aku ke Bandung untuk menemui dina. Tapi, dina selalu melarangaku untuk menemuinya. Dia selalu berkata.

”Aku mohon jangan temui aku dulu. Aku ingin menguji persahabatan kita. Jadi tunggulah sampai kita lulus SMP. Setelah itu aku janji akan menemuimu di tempat kita sering bermain sewaktu kecil.” Ujar dina

Ia memang tidak pernah lupa untuk mengabari aku tentang keadaannya disana. Setiap hari dia selalu sms dan menelpon aku. Aku sangat bahagia bila menerima sms atau telpon darinya.

                                                                                                                                                                      
          Hari-hari terus berlalu. Tidak terasa waktu begitu cepat bergulir. Tiga tahun sudah aku menjadi siswi SMP. Dan tiga tahun sudah persahabatanku dan dina diuji. Dan selama tiga tahun itu juga aku menjalin hubungan dengan seorang pria yang bernama Dimas yang sangat aku sayangi. Dimaslah yang selalu menemani aku dikala aku kesepian. Dan disaat aku sedang merindukan dina. Dimas selalu meyakinkan aku bahwa aku akan bertemu dengan sahabatku itu. Aku sangat bahagia, karena lusa aku akan pergi ke Bandung untuk menemui sahabat kecilku. Aku pun telah mempersiapkan sebuah kado yang sangat spesial untuk sahabatku. Karena kita berjanji akan saling tukar-menukar kado saat kita bertemu.

           Lusa telah tiba. 26 Desember, itulah tanggal yang aku lingkari di kalender yang ada di sebelah meja belajarku. Tanggal itu adalah tanggal kesepakatan aku untuk bertemu dina. Pagi ini aku segera beranjak bangundari tempat tidur. Lalu sesegera mungkin aku mandi dan bersiap-siap karena jam 08.00 aku akan pergi ke Bandung bersama dimas. Jam telah menunjukan pukul 07.30,aku bergegas turun ke ruang tamu untuk menunggu Dimas dan berpamitan dengan orang tuaku. Selama aku menunggu Dimas, aku berusaha untuk menelpon Dina. Tapi, aku tidak mengerti mengapa selama 3 hari ini handphone dina tidak pernah bias kuhubungi. Tapi, aku tidak mau sedih. Karena, aku yakin hari ini aku akan bertemu dengan dina.

 Saat aku sedang berusaha menelpon dina, aku mendengar suara motor dimas. Dan ternyata, dimas telah berada di depan rumahku. Aku pun segera keluar untuk menemui Dimas dan orang tuaku juga turut keluar bersamaku. Tapi ada satu hal yang membuatku bingung, saat aku ingin berpamitan dengan orang tuaku, orang tuaku berkata :

”Nak, apapun yang akan kamu lihat disana, kamu harus bisa menerimanya. Kamu harus yakin ini semua sudah jalannya”.

          Aku sungguh tidak mengerti apa maksud dari perkataan orang tuaku. Tapi, aku tidak membahas itu. Karena, yang ada dalam pikiranku sekarang hanya ingin bertemu dina sahabatku.
                                                                                                                                         
          Jam menunjukkan pukul 11 siang. Akhirnya, aku sampai di kota Bandung. Dan beberapa kilometer lagi aku akan sampai di rumah Dina. Betapa terkejutnya aku karena saat aku sampai di depan rumah dina, aku melihat banyak orang-orang di rumahnya dan ada beberapa bendera berwarna kuning di depan rumahnya,aku segera berlari masuk ke dalam rumah dina.

          Aku tidak bias menahan air mataku yang terus menetes saat aku melihat sebuah tubuh terbaring kaku dengan ditutup kain putih dan dikelilingi orang banyak sambil membaca ayat-ayat al-quran. Dan ternyata, itu adalah tubuh dina, sahabatku. Aku terus menangis. Menangis dan menangis karena aku tidak percaya Dina akan pergi.

           Orang tua dina berusaha untuk membuatku tenang. Dan mereka menceritakan semua kepadaku. Ternyata, sejak umur 5 tahun dina menderita penyakit kanker darah. Tapi, dia tidak pernah mau menceritakan itu semua kepadaku. Karena, dia tidak mau masa kanak-kanaknya dihiasi dengan kesedihan. Dia selalu menutupi rasa sakitnya dengan canda tawanya. Dan ternyata, dina pindah ke Bandung bukan karena orang tuanya di pindahtugaskan.Tapi, karena dina tidak mau aku sedih bila tau kenyataan yang sebenarnya. Dina tidak mau membuat masa kecilku tidak bahagia. Maka, dina selalu menutupi semuanya dariku. Air mataku semakin deras mengalir saat aku mendengar semua pernyataan orang tua dina. Dimas yang ikut mendampingiku berusaha menenangkan aku. Dan aku baru tahu ternyata orang tuaku telah terlebih dahulu mengetahui semuanya. Tapi, atas permohonan dina mereka juga menutupinya dariku.

           Sungguh aku sangat kecewa. Kenapa semua orang tega membohongi aku. Kenapa semuanya harus dirahasiakan dariku. Apa aku tidak boleh merasakan apa yang sahabat kurasakan?. Orang tua dina berusaha untuk membuatku mengerti kenapa mereka melakukan ini. Dimas pun turut menenangkanku. Akhirnya, aku berusaha untuk bias menerima penjelasan mereka.

           Setelah orang tua dina menjelaskan semua, mereka memberikan aku sebuah surat yang ditinggalkan dina untukku yang bertuliskan tinta biru..

“Untuk sahabatku,
maafkan aku jika saat kau membaca surat ini, aku tidak bisa ada di dekat mu lagi…   sungguh aku tidak pernah berniat untuk membohongimu. Aku hanya ingin masa kecil kita diwarnai dengan kebahagiaan. Bukan kesedihan.                                                 Terimakasih karena kau telah membuat masa kanak-kanakku berwarna.
Aku melakukan ini untuk menguji persahabatan kita. Dan aku ingin engkau bisa terbiasa bermain dan menghabiskan masa remajamu tanpaaku, aku sangat bahagia bisa mempunyai sahabat kecil seperti mu.
Sahabatku, aku mohon jaga orang tuaku,danjuga adik-adikku.
aku juga menitipkan sebuah boneka kayu untukmu. Tolong jaga boneka itu. Dan jadikan boneka itu pengganti diriku..
Dari Sahabatmu,
Dina ... "

Memang, sahabat itu seperti saudara kandung yang memiliki ‘ikatan batin’. Dan, hanya sahabat yang tulus dalam segala hal ke kita.


Ps: Jangan lupa tisunya dibuang ke tempat sampah
Back to Top